PENINGKATAN KERJA ILMIAH PESERTA DIDIK SMA MELALUI PEMBELAJARAN KIMIA INQUIRY TERBIMBING

Oleh: Khairiyah Muhammadiah

Abstract

KHAIRIYAH  MUHAMMADIAH. Improve Scientific Work of High School Students through Guided Inquiry Chemistry Learning. This research is classroom action research (classroom action research) which includes planning, action, observation and reflection. The action was taken to improve the scientific work of students through guided inquiry Chemistry learning in two cycles.

Collecting data in this study uses educator observation sheets and observation sheets of student activities as well as scientific work instruments through student activity sheets (LKPD) which are completed with an assessment rubric.

Analysis of the data used in this study is quantitative analysis and then described qualitatively based on the results of observations of the chemistry learning process carried out by educators and observations of learning activities by students. As well as the scientific work ability of students through the assessment of students’ activity sheets.

From the results of this study obtained data that the ability of scientific work of students can be improved through guided inquiry learning. Of the six aspects of scientific work that became the focus of this study only four aspects of scientific work experienced a significant increase from the action of cycle I to cycle II, namely identifying problems, formulating problems, collecting data and testing hypotheses.

Abstrak

KHAIRIYAH MUHAMMADIAH. Meningkatkan Kerja Ilmiah Peserta didik SMA melalui Pembelajaran Kimia Inquiry Terbimbing. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Tindakan dilakukan untuk meningkatkan kerja ilmiah peserta didik melalui pembelajaran fisika Inquiry terbimbing dalam dua siklus.

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi pendidik dan lembar observasi aktifitas peserta didik serta instrumen kerja ilmiah melalui lembar kegiatan peserta didik (LKPD) yang dilengkapi rubrik penilaian.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah  analisis kuantitatif  kemudian di deskripsikan secara kualitatif  berdasarkan hasil observasi terhadap proses pembelajaran kimia yang dilakukan oleh pendidik dan hasil observasi terhadap aktifitas belajar oleh peserta didik.  Serta kemampuan kerja ilmiah peserta didik melalui hasil penilaian lembar kegiatan peserta didik.

Dari hasil penelitian ini diperoleh data bahwa kemampuan kerja ilmiah peserta didik dapat ditingkatkan melalui pembelajaran inquiry terbimbing. Dari enam aspek kerja ilmiah yang menjadi fokus dalam penelitian ini hanya empat aspek kerja ilmiah yang mengalami peningkatan secara signifikan dari tindakan siklus I ke siklus II yakni mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, mengumpulkan data dan menguji hipotesis.

Kata kunci:Kerja Ilmiah, Inquiry Terbimbing

PENDAHULUAN

Kurikulum 2013 dikembangkan berbasis kepada kompetensi yang sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang berkualitas yang mampu menjawab tantangan zaman yang senantiasa berubah. Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir dalam proses pembelajaran.

Dari berpusat kepada pendidik menuju kepada peserta didik. Dari pasif ke aktif menyelidiki, dari pembelajaran individu menuju pembelajaran berbasis kelompok, dari pendidik sebagai satu – satunya sumber belajar menuju ke berbagai macam sumber belajar, dari pendekatan pembelajaran tekstual menuju proses penguatan penggunaan pendekatan ilmiah.

Kimia sebagai wahana pengetahuan untuk memberi bekal ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan pada peserta didik.  Berdasarkan pertimbangan inilah maka pembelajaran Kimia di SMA hendaknya dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran yang terintegrasi dalam kegiatan ilmiah.

Dari dua kelas X  peminatan matematika dan ilmu alam yang   terdapat di SMA Negeri 13 Kabupaten Maros terdapat satu kelas yang , memiliki karakteristik peserta didik sebagai berikut : (1) Kemampuan peserta didik dalam melakukan pengamatan, melihat, mendengar, merasakan hal yang penting dari suatu fenomena atau objek masih kurang. (2) Pada umumnya peserta didik di kelas tersebut belum mampu  membedakan pengertian konsep kepolaran senyawa. (3) Peserta didik di kelas tersebut belum mampu melakukan percobaan yang menuntut aspek pengetahuan dan keterampilan yang lebih kompleks seperti mengumpulkan data atau informasi, menguji kebenaran hipotesis  dan menarik kesimpulan  berdasarkan hasil percobaan.

Hasil Observasi awal yang dilakukan oleh pendidik yang sekaligus bertindak sebagai peneliti tentang  keterampilan   kerja   ilmiah peserta didik di kelas tersebut. Persentase skor rata-rata aspek kerja ilmiah peserta didik sebagai berikut : kemampuan mengidentifikasi masalah  66,62% ,  merumuskan masalah 68,92% , menyusun hipotesis 56,76%, mengumpulkan data 70,27 %, 66,22%  pada aspek menguji hipotesis dan menarik kesimpulan 59,46%. Persentase rata-rata kemampuan peserta didik dalam melakukan kerja ilmiah berkisar 60-70% masih berada pada kategori rendah.

Kemampuan peserta didik mengenali  masalah berdasarkan hasil pengamatan, mengajukan pertanyaan, memprediksi hasil percobaan, mengumpulkan data , menguji kebenaran hipotesis berdasarkan hasil percobaan dan menarik kesimpulan masih rendah. Data ini mengindikasikan bahwa kerja ilmiah peserta didik di kelas tersebut masih rendah.

Adapun penelitian terdahulu yang sejalan dengan penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas  (PTK) yang dilakukan oleh Suhartik Wahyuni (2014) di SMA Negeri 6 Malang menyimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dapat meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi belajar Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas. Data dalam penelitian dikumpulkan melalui lembar observasi guru dan siswa dan hasil belajar diperoleh melalui tes kemampuan kognitif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase rata-rata kemampuan kerja ilmiah siswa pada siklus I adalah 79,06% mengalami peningkatan di siklus II menjadi 92,44%. Aspek kerja ilmiah yang belum mencapai target keberhasilan 80 % yaitu aspek mengamati, mengajukan pertanyaan, mengkomunikasikan dan menyimpulkan

Adapun hasil yang ingin dicapai oleh peneliti adalah meningkatkan kemampuan peserta didik melakukan kerja ilmiah yang meliputi  serangkaian  kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Pada umumnya  metode  ilmiah dilandasi dengan pemaparan data yang diawali dengan kegiatan observasi, perumusan masalah, penyusunanhipotesis, kegiatan eksperimen, menganalisis data hasil percobaan dan menarik kesimpulan.

Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul :

PENINGKATAN KERJA ILMIAH PESERTA DIDIK SMA MELALUI PEMBELAJARAN KIMIA INQUIRY TERBIMBING

Adapun pertanyaan yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana menerapkan pembelajaran Inquiry Terbimbing agar dapat meningkatkan kerja ilmiah peserta didik SMA?

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang  penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing yang  dapat meningkatkan kerja ilmiah peserta didik SMA.

Kerja Ilmiah merupakan suatu kemampuan untuk menemukan kebenaran yang merupakan sebuah pemikiran kritis (critical thinking) meliputi perumusan masalah, perumusan hipotesis atau jawaban sementara, mengumpulkan data untuk melakukan pengujian atas hipotesis yang telah di rumuskan dan menarik kesimpulan untuk mencocokkan hasil dengan hipotesis ( Afrilianto: 2014 )

Partisipasi peserta didik  dalam kegiatan penyelidikan melalui kegiatan praktikum dapat mendorong peserta didik  untuk mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, melakukan kegiatan percobaan,menggunakan alat untuk mengumpulkan data, menganalisis data hasil percobaan, berdiskusi serta  menarik kesimpulan Hal tersebut dapat mengembangkan kemampuan kerja ilmiah Peserta didik.

Peserta didik  belajar secara aktif dalam menemukan konsep. Suatu kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah disebut kerja ilmiah yang meliputi:(1) Mengidentifikasi masalah, (2) Merumuskan masalah, (3) Membuat hipotesis, (4) Mengumpulkan data, (5) Menguji hipotesis, (6) Menarik kesimpulan. (N.A Cahyo : 2012).

Pembelajaran Kimia memberikan kesempatan siswa untuk mendeskripsikan objek dan kejadian, mengajukan pertanyaan, memperoleh pengetahuan, mengkonstruk penjelasan dari fenomena alam, menguji penjelasan dengan berbagai cara dan mengkomunikasikannya kepada orang lain.(Daniah : 2014)

Inkuiri terbimbing (guided inquiry)  merupakan model pembelajaran yang dapat melatih keterampilan peserta didik dalam melaksanakan proses penyelidikan untuk mengumpulkan data berupa fakta dan memroses fakta tersebut sehingga peserta didik mampu membangun kesimpulan secara mandiri guna menjawab pertanyaan atau permasalahan yang diajukan oleh guru (teacher proposed research question).

Model pembelajaran inkuiri terbimbing melibatkan peserta didik dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan guru. Peserta didik melakukan penyelidikan, sedangkan guru membimbing mereka ke arah tepat dan benar. Dalam model pembelajaran ini,  guru perlu memiliki keterampilan memberikan bimbingan   yakni mendiagnosis kesulitan peserta didik dan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi (khanafiyah,2010 : 117)

Model inkuiri terbimbing (guided inquiry) guru berperan memilih topik atau pokok bahasan,mengajukan pertanyaan, dan menyediakan materi pembelajaran dan peserta didik mendesain dan merancang penyelidikan, menganalisa hasil, dan menarik kesimpulan.(Hartono : 2014)

Menurut Hanson M David( jurnal internasional 2nd edition :2005 ) tahap pelaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing terdiri dari lima tahapan sebagai berikut: (1) tahap orientasi (orientation)adalah suatu tahapan mempersiapkan peserta didik untuk belajar, memunculkan ketertarikan peserta didik terhadap proses pembelajaran ( creates interest), memberikan motivasi, membangkitkan keingintahuan (generates curiosity), membangun informasi baru dengan menyesuaikan dengan pengetahuan sebelumnya (prior knowledge).

(2)tahap eksplorasi (exploration) : memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi serta membangun hipotesis berdasarkan permasalahan yang diberikan oleh pendidik.(3) tahap pembentukan konsep ( concept formation) : menentukan hubungan antar konsep dan mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dan analitis membangun kesimpulan. (4) tahap aplikasi (application) : melibatkan penggunaan pengetahuan baru dalam latihan. Konsep berupa pengetahuan baru yang telah diaplikasikan dalam berbagai situasi seperti latihan atau diskusi yang memungkinkan peserta didik untuk menerapkan pada situasi sederhana hingga permasalahan dunia nyata (real – world problems).(5) tahap penutup ( closure) : mengarahkan peserta didik untuk melaporkan hasil temuannya, merefleksi apa yang telah mereka pelajari hingga menyesuaikan pengetahuan baru dan pengetahuan awal yang telah ada dalam dirinya.

METODE

Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan informasi bagaimana tindakan yang tepat untuk meningkatkan keterampilan pendidik dalam mengelola kegiatan pembelajaran di kelas untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di kelas serta aktifitas peserta didik dalam kegiatan pembelajaran (Kulthau, 2013 : 12 ).\

Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada meningkatkan kemampuan peserta didik melakukan Kerja Ilmiah melalui Pembelajaran Kimia Inkuiri Terbimbing (PKIT).

Untuk mewujudkan penelitian ini maka langkah – langkah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan adalah : Tahap Perencanaan (Planning) , Tahap Pelaksanaan Tindakan (Action), Tahap Pengamatan (Observation) Tahap Refleksi (Reflection) Selanjutnya tahapan – tahapan tersebut dirangkai dalam dua siklus kegiatan.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2017/2018 yang berlokasi di SMA Negeri 13 Maros Kabupaten Maros. Subjek penelitian adalah peserta didik Kelas X-MIpa- 1 dengan jumlah Peserta didik 30 Peserta didik terdiri dari 14 Perempuan dan 16 Laki-laki.

Variabel yang dikaji pada penelitian tindakan kelas berupa variabel masalah kerja ilmiah peserta didik dan variabel tindakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran fisika inquiry terbimbing.(Arikunto : 2010)

Untuk menciptakan kesamaan persepsi terhadap masalah yang diteliti, maka definisi operasional variabel yang digunakan dirumuskan sebagai berikut:

(1) Kerja Ilmiah Peserta didik adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dalam mempelajari konsep  fisika dengan mengikuti kaidah – kaidah keilmuwan atau metode ilmiah meliputi enam aspek kerja ilmiah : mengidentifikasi masalah,merumuskan masalah,menyusun hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan menarik kesimpulan.

(2) Pembelajaran Kimia Inkuiri Terbimbing adalah model pembelajaran yang dapat melatih keterampilan peserta didik dalam melaksanakan proses penyelidikan untuk mengumpulkan data berupa fakta dan memroses fakta tersebut sehingga peserta didik mampu membangun kesimpulan secara mandiri guna menjawab pertanyaan atau permasalahan di bawah bimbingan pendidik.  Ada lima tahapan atau fase sebagai berikut : Orientasi, Eksplorasi, Pembentukan Konsep, Aplikasi dan Penutup.(Alberta : 2004)

Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus I (selama 5 kali pertemuan) dan siklus II (selama 6 kali pertemuan) yang saling berkaitan.

Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, pada setiap pertemuan peserta didik diberi bahan bacaan peserta didik dan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) berbasis kerja ilmiah bagi peserta didik kelas X SMA Negeri 13 Maros. terlebih dahulu dilakukan observasi awal dengan maksud untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dalam melakukan  kerja ilmiah

Siklus penelitian tindakan kelas (PTK) disusun sebagai langkah tertentu yang membimbing peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian secara berurutan dan sistematis.

Dalam penelitian ini maka pendidik  yang juga bertindak sebagai peneliti melaksanakan pembelajaran dan dua orang observer bertugas mengamati dan mencatat dengan cermat dan sistematik tentang seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran.

Selain itu pada saat melakukan suatu kegiatan PTK, peneliti dapat belajar dari pengalaman yang diperoleh. Prosedur pelaksanaan penelitian meliputi langkah-langkah sebagai berikut  :  (1) Perencanaan; (2) Pelaksanaan Tindakan ; (3) Observasi dan Evaluasi ; (4) Refleksi ( Kemendikbud, 2014 :12)

Siklus I 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada kegiatan mengidentifikasi masalah atau melakukan pengamatan terhadap permasalahan yang diberikan oleh pendidik. Pendidik melakukan kegiatan demonstrasi di depan kelas dengan menggunakan alat percobaan Kepolaran Senyawa terlihat seluruh peserta didik memperhatikan kegiatan pembelajaran tetapi pada saat mereka diminta menuliskan hasil pengamatan dalam bentuk kalimat yang menyatakan perbandingan masih ada peserta didik yang belum mampu menuliskan hasil pengamatan.

Rata-rata keterlaksanaan pembelajaran oleh pendidik dalam membimbing peserta didik membuat pertanyaan dan membimbing pesertadidik mengidentifikasi masalah adalah 66,67 % berada pada kategori kurang.

Pada tahap eksplorasi, merumuskan masalah untuk melatih kemampuan peserta didik menyatakan hubungan antar variabel masalah berdasarkan hasil pengamatan. Pendidik mengarahkan peserta didik untuk membuat pertanyaan dengan menggunakan kata “Apa atau Mengapa” serta “Bagaimana” fenomena tersebut dapat terjadi. Peserta didik membuat pertanyaan sesuai dengan pendapat mereka sendiri.

Seluruh peserta didik meminta bantuan pendidik dalam menyusun kalimat rumusan masalah. Rata-rata keterlaksanaan pembelajaran oleh pendidik dalam membimbing peserta didik merumuskan masalah  adalah 66,67 % berada pada kategori kurang.

Terlihat bahwa kegiatan ini hanya di dominasi oleh beberapa peserta didik saja sehingga peserta didik yang tidak ikut terlibat melakukan kegiatan di luar aktifitas pembelajaran. Selanjutnya Pendidik membimbing peserta didik untuk menentukan jawaban sementara atas rumusan masalah melalui kegiatan diskusi kelompok.

Tampak bahwa beberapa peserta didik kurang bekerja sama dalam kelompoknya. Pendidik  membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk aktif melakukan kerja kelompok dalam mengerjakan LKPD. Beberapa peserta didik dalam kelompok belum mampu membuat hipotesis hingga waktu pembelajaran berakhir.

Selanjutnya di pertemuan ketiga dan keempat, kegiatan pembelajaran mengumpulkan data atau informasi. Pendidik membimbing peserta didik dalam melakukan percobaan  Pendidik membimbing seluruh kelompok peserta didik dalam melakukan percobaan dan membaca skala alat ukur. Pada umumnya seluruh peserta didik dalam kelompok mampu menentukan hasil pengukuran panjang pegas dengan menggunakan mistar biasa.

Keterbatasan jumlah alat percobaan menyebabkan suasana kelas menjadi tidak kondusif  ketika peserta didik saling meminjam alat dengan peserta didik lainnya. Rata-rata keterlaksanaan pembelajaran oleh pendidik dalam mengumpulkan data adalah 50,00 % berada pada kategori sangat kurang.

Siklus II.

Pada kegiatan mengidentifikasi masalah atau melakukan pengamatan terhadap permasalahan yang diberikan oleh pendidik. Pendidik membimbing tiap kelompok peserta didik  yang mengalami kesulitan dalam menemukan masalah. Rata-rata keterlaksanaan pembelajaran oleh pendidik dalam membimbing peserta didik membuat pertanyaan dan membimbing peserta didik mengidentifikasi masalah adalah 86,67 % berada pada kategori Tinggi.

Pada tahap eksplorasi, merumuskan masalah untuk melatih kemampuan peserta didik menyatakan hubungan antar variabel masalah berdasarkan hasil pengamatan. Pendidik mengarahkan peserta didik untuk membuat pertanyaan dengan menggunakan kata “Apa atau Mengapa” serta “Bagaimana” fenomena tersebut dapat terjadi.

Peserta didik membuat pertanyaan dengan bimbingan sepenuhnya dari pendidik dibantu oleh peserta didik lain yang ahli dalam kelompoknya.

Seluruh peserta didik meminta bantuan pendidik dalam menyusun kalimat rumusan masalah. Rata-rata keterlaksanaan pembelajaran oleh pendidik dalam membimbing peserta didikmerumuskan masalah  meningkat menjadi 72,22 % berada pada kategori Sedang

Selanjutnya di pertemuan ketiga dan keempat, kegiatan pembelajaran mengumpulkan data atau informasi. Pendidik membimbing peserta didik dalam melakukan percobaan  Pendidik membimbing seluruh kelompok peserta didik dalam melakukan percobaan dan membaca skala alat ukur. Pada umumnya seluruh peserta didik dalam kelompok mampu menentukan zat yang dapat di belokkan oleh batang politena yang bermuatan listrik dengan menggunakan mistar penggaris dan buret tetes.

Pendidik mempersiapkan alat praktikum bagi seluruh kelompok peserta didik. Rata-rata keterlaksanaan pembelajaran oleh pendidik dalam mengumpulkan data adalah  83,33 % berada pada kategori tinggi.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis kualitatif dan kuantitatif, terlihat pada dasarnya pelaksanaan pembelajaran melalui strategi berpikir secara kelompokmemberikan perubahan hasil belajar yaitu terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II.

Siklus I

Berdasarkan hasil observasi siswa pada siklus I diketahui bahwa melalui strategi berpikir secara kelompokdapat mengaktifkan siswa walaupun peningkatannya masih kecil begitupun persentase siswa yang  menjawab pada saat diajukan  pertanyaan tentang materi pelajaran, dan siswa yang menanggapi jawaban dari siswa lainserta siswa yang mengajukan diri untuk mengerjakan soal di papan tulis.

Persentase peningkatannya dari tiap–tiap pertemuan masih tergolong rendah, hal ini dipengaruhi oleh rasa percaya diri siswa yang masih kurang untuk tampil didepan kelas.Begitupun masih tingginya persentase siswa yang melakukan kegiatan  lain pada saat pembahasan materi pelajaran yaitu persentase rata–ratanya sebesar 26,87%.

Berdasarkan skor rata-rata hasil belajar siswa yang diperoleh setelah proses belajar mengajar selama Siklus I berlangsung yaitu sebesar 69. Setelah dikategorisasikan skor hasil belajar siswa kelas X-Mipa-1 SMA Negeri 13 Maros  pada siklus I, diketahui bahwa tingkat penguasaan siswa Kelas X-Mipa-1 SMA Negeri 13 Maros berada pada kategori rendah.

Meskipun demikian pada siklus I masih banyak siswa yang memiliki skor pada kategori rendah dan  kategori sedang.

Faktor-faktor yang menyebabkan siswa  memiliki skor yang masih rendah dan sedang antara lain :

Proses pembelajaran terlalu cepat pada saat pemberian materi pelajaran,.

Kurangnya pengelolaan kelas dan kurangnya bimbingan dalam pengerjaan soal-soal baik perorangan maupun perkelompok sehingga siswa cenderung melakukan kegiatan lain pada saat proses pembelajaran berlangsung.

Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan soal-soal latihan terlalu singkat sehingga mengakibatkan kurangnya siswa yang mengajukan diri untuk mengerjakan soal di papan tulis pada saat guru meminta siswa mengerjakan soal di papan tulis karena siswa belum sempat menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru akibat dari waktu yang diberikan terlalu singkat.

Terlalu banyak anggota kelompok dalam setiap kelompok sehingga kurang terjalin kerjasama yang baik antara sesama anggota kelompok dalam setiap kelompok.

Pembagian anggota kelompok yang tidak merata antara siswa yang memiliki kemampuan berfikir tinggi, sedang, dan rendah, sehingga ada kelompok yang di dalamnya terlalu banyak anggota kelompok yang memiliki kemampuan berfikir tinggi dan ada pula kelompok yang di dalamnya terlalu banyak anggota kelompok yang memiliki kemampuan berfikir rendah, yang mengakibatkan anggota kelompok kurang bekerjasama dengan baik dalam memecahkan suatu masalah yang diberikan oleh guru.

Adapun langkah-langkah sebagai hasil refleksi siklus I dalam pelaksanaan siklus II meliputi :

Proses belajar mengajar yang tidak terlalu cepat.

Memberikan bimbingan kepada siswa, khususnya yang baru serius jika guru yang membimbing secara bergiliran dari satu kelompok ke kelompok yang lain.

Menambah waktu pengerjaan soal-soal penerapan agar siswa dapat menyelesaikan soal dengan benar.

Memberikan kesempatan kepada siswa yang kurang berpartisipasi dan selalu main-main untuk mempersentasekan hasil diskusi kelompoknya.

Menambah jumlah kelompok yang sebelumnya 5 kelompok diubah menjadi 6 kelompok, serta melakukan pertukaran anggota kelompok.

Memberikan motivasi kepada siswa dengan cara mengemukakan bahwa siswa yang sering memberikan solusi terhadap pertanyaan yang diberikan oleh guru, dan yang sering naik ke papan tulis mengerjakan soal akan mendapat penambahan nilai.

Siklus II

Siklus II dilakukan setelah merefleksikan pelaksanaan siklus I, kemudian diperoleh gambaran tindakan yang dilakukan pada siklus II sebagai perbaikan dari pelaksanaan siklus I, sehingga prestasi belajar yang diperoleh pada penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan.


Frekuensi kehadiran siswa selama mengikuti kegiatan proses belajar mengajar sampai akhir pertemuan siklus II menggambarkan bahwa minat dan motivasi belajar fisika siswa mengalami peningkatan, keberanian untuk mengajukan diri mengerjakan soal di papan tulis sudah merata bukan hanya pada golongan siswa yang mempunyai hasil belajar yang baik.

Melainkan siswa yang selama ini diam memperlihatkan keberanian untuk maju mengerjakan soal-soal latihan di papan tulis dan mengajukan pendapatnya mengenai konsep yang ditanyakan.

Kemampuan siswa dalam menerima materi pelajaran semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari semakin berkurangnya siswa meminta penjelasan ulang materi yang sudah diberikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas belajar mengajar pada siklus II ini semakin baik.

Adapun bentuk perubahan tindakan yang dilakukan pada siklus II yaitu menambah jumlah kelompok yang sebelumnya 5 kelompok diubah menjadi 6 kelompok agar tidak terlalu banyak anggota kelompok dalam setiap kelompok, serta melakukan pertukaran anggota kelompok dengan cara membagi kelompok secara merata antara siswa yang memiliki kemampuan berfikir tinggi, sedang dan rendah.

Hal ini dimaksudkan agar terjalin interaksi yang baik antar sesama anggota kelompok untuk mampu bekerjasama dalam memecahkan atau mendiskusikan suatu masalah yang diajukan oleh guru.

Selain itu bentuk perubahan tindakan yang lain dilakukan adalah proses belajar mengajar yang tidak terlalu cepat, menambah waktu pengerjaan soal-soal penerapan, memberikan kesempatan kepada siswa yang kurang berpartisipasi dan selalu main-main untuk mempersentasekan hasil diskusi kelompoknya, memberikan bimbingan kepada siswa, khususnya yang baru serius jika guru yang membimbing secara bergiliran dari satu kelompok ke kelompok yang lain, memberikan sanksi kepada siswa yang bertindak kurang positif seperti meminta siswa tersebut menyebutkan kembali apa yang telah dijelaskan oleh guru ataupun berupa pertanyaan teguran agar siswa tersebut lebih terfokus pada materi  yang diberikan.


Memberikan motivasi kepada siswa dengan cara mengemukakan bahwa siswa yang sering memberikan solusi terhadap pertanyaan yang diberikan oleh guru dan sering naik mengerjakan soal di papan tulis akan mendapatkan penambahan nilai.

Dari tindakan–tindakan yang dilakukan pada siklus II ternyata efektif karena dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran misalnya bertambahnya siswa yang menjawab pertanyaan,mengajukan diri mengerjakan soal dan meningkatkan kerjasama antara teman kelompok.

Secara umum  pada siklus II terjadi peningkatan positif aktivitas siswa, hal ini terlihat dari rata–rata kehadiran siswa setiap pertemuan, jumlah siswa yang mengajukan diri untuk mengerjakan soal di papan tulis, siswa yang menjawab ketika diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran, dan siswa yang menanggapi jawaban dari siswa lain selama proses pembelajaran berlangsung semakin meningkat.

Sebaliknya jumlah siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi pelajaran semakin berkurang.

Selain terjadi peningkatan hasil belajar fisika siswa selama siklus I dan siklus II, terjadi pula perubahan sikap siswa dalam proses pembelajaran. Perubahan tersebut merupakan data kualitatif yang diperoleh melalui lembar observasi pada setiap pertemuan selama dua siklus.

Adapun perubahan-perubahan yang dimaksud adalah:

Meningkatnya keaktifan siswa dari siklus I ke siklus II dalam proses pembelajaran seperti: memberikan jawaban sementara terhadap masalah pada awal pembelajaran, menjawab pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran, serta memberikan tanggapan positif terhadap jawaban siswa lain.

Meningkatnya keaktifan siswa dalam mengajukan diri untuk mengerjakan soal di papan tulis, siswa yang mengerjakan soal di papan tulis dengan benar, serta semakin banyak siswa yang membantu temannya dalam mengerjakan soal sehingga guru tidak terlalu kewalahan dalam membimbing siswa.

Semakin sedikit siswa yang melakukan aktivitas lain pada saat pembahasan materi pelajaran.

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis data dan hasil penelitian sebagaimana yang telah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa :

kemampuan peserta didik dalam melakukan kerja ilmiah dapat ditingkatkan melalui penerapan pembelajaran Inquiry T

Dari Enam aspek kerja ilmiah dalam penelitian ini maka yang mengalami peningkatan hanya empat aspek yakni mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, mengumpulkan data dan menguji hipotesis yang mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II

Ada dua aspek kerja ilmiah yakni menyusun hipotesis dan menarik kesimpulan yang belum mengalami peningkatan secara signifikan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alberta learning.2004.Focus on inquiry : A Teacher’s guide to implementing inquiry – based learning.
  2. Afrilianto.,.2014. Panduan bagi guru Penelitian Tindakan Kelas .Bandung : Refika Aditama
  3. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta:  PT Rineka Cipta
  4. Cahyo N.A.2012. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar.yogyakarta : Diva Press
  5. Daniah, 2014. Penggunaan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing pada Mata Kuliah IPA Terhadap Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Mahasiswa Jurusan PGMI UIN AR-Raniry .
  6. Gunawan Imam, 2014. Metode Penelitian Kualitatif (Teori dan Praktik) . Jakarta ; Bumi Aksara
  7. Hanson M.David.2005.Designing Process-Oriented Guided Inquiry Activities stony brook university
  8. Hartono,R.2014.Ragam model mengajar yang mudah diterima murid.Yogyakarta : Diva Press
  9. Kuhlthau Collier Carol. 2010.Guided Inquiry ;school libraries in the 21st century vol 16 No 1 hal 17-28
  10. Kemendikbud.2014.Materi Pelatihan Implementasi kurikulum 2013 Mata pelajaran Kimia SMA/SMK

Penulis:

Khairiyah Muhammadiah ( Guru Kimia di SMA NEGERI 13 MAROS Jl Taman Safari No. 99 Pucak Kabupaten Maros, No HP: 085298504468 Email: khairiyah@mks.sch.id